Which One Must I Choose?

Which One Must I Choose?

Oleh : Aina Fadillah_FKIP Sejarah_UR

(Yang Mana yang Harus Aku Pilih)

Kring… kring… kring… “Duuuh berisik banget ni alarm”, kataku. Kemudian aku melihat jam, jam menunjukkan pukul 7, aku bersiap-siap pergi kekampus. Hari ini aku masuk kuliah jam setengah 8. “Ya ampun, bisa terlambat ni, mana tugas belum dikerjakan”, kataku sambil buru-buru mandi. “Yasmiiin, aku pergi duluan ya?” tanya Zahrah. “Zahrah tunguu…”, kataku. Setelah mandi, ternyata Zahrah sudah pergi duluan. “Yaaah, matilah. Pasti kena marah dosen ni kalau telat” kataku. Sesampainya dikampus jam 7.55 WIB. “Zahrah, kok kamu ninggalin aku sih?, Ra, lihat tugasmu dong?” kataku kepada Zahrah. “Ini”, kata Zahrah dengan wajah menunduk. Kemudian dosen pun datang, dan tugasku pun belum selesai dikerjakan. “Baik, anak-anak sekalian tugas yang ibu berikan dikumpul sekarang”. Akupun mengantar tugas yang belum selesai. “Yasmin kok tugas kamu belum selesai nak?” kata bu Erni. “Maaf bu”, jawabku. “Ibu sudah berikan kalian waktu seminggu untuk mengerjakan tugas ini, tapi kamu malah tidak selesai mengerjakan. Sebagai hukumannya kamu tidak boleh masuk matakuliah ibu kali ini”. Akupun keluar, meninggalkan ruang kelas.
Akupun duduk terdiam, diaula mushollah sambil mengechat Fahri, pacarku. Akupun cerita apa yang aku alami hari itu. Dia merespon dan memberi masukan kepada ku. Itu membuat aku bangkit. Satu jam berlalu, Zahrah menghampiri. “Yasmin, kenapa kamu hari ini tidak sholat shubuh, sampai-sampai terlambat masuk?” Zahrah bertanya kepadaku. “Kamu sih, tidak membangunkanku”, jawabku. “Sudah berulang kali aku membangunkan mu Yasmin, tapi tetap saja kamu tidur terlelap” jawab Zahrah. “Kamu juga tadi tidak mau menungguku!”, aku mulai kesal. “Yasmin, aku ingin berterus terang. Aku perhatikan kan,  akhir-akhir ini kamu sering sekali terlambat bangun dan meninggalkan sholat. Dan kamu banyak meluangkan waktu untuk pacarmu daripada untuk belajar. Kamu kenapa Yasmin?” tanya Zahrah dengan wajah serius. “Gak kok, aku nggak kenapa-napa. Gak ada yang berbeda dari diri aku”. Jawabku dengan ketus. “Yasmin, walaupun kita bersahabat belum terlalu lama. Tapi aku merasa, kali ini kamu benar-benar berbeda. Kata Zahrah. “Apanya sih yang berbeda Zahrah?”, jawabku. Akupun pergi meninggalkan Zahrah.
Sesampainya dikost, aku bersiap-siap pergi ke Café bersama Fahri. Kami makan dan berbincang bersama. Waktu berlalu, suara adzan pun terdengar. Aku dan Fahri bergegas pulang. Aku merasa tenang berada disampingnya.
Keesokan harinya setelah jam masuk, aku berkumpul dengan Riri, Nita dan Okta. Kami cerita mengenai kegiatan Hima. Dan waktu dzuhur masuk, Zahrah pun menghampiri, dan mengajak kami sholat. Kami berempat tetap saja melanjutkan cerita, dan waktu sholat kami tunda. Dan akhirnya pada pukul 15.00 kami baru sholat dzuhur.  Setelah itu kami pun bergegas kekelas dan menghabiskan waktu untuk bermain gadget. Tengah asyiknya bermain gadget, kami mendapat pesan dari Zahrah bahwa nanti sore, habis ashar ada kajian hari senin di mushollah. Dan kami pun acuh tak acuh terhadap pesan Zahrah.dan pada akhirnya terlewat kami tidak jadi mengikuti agenda tersebut.
Sekembalinya dikost, Zahrah bertanya, “Yasmin, kenapa tadi tidak ikut kajian?”. “Malas rasanya Zahrah”, jawabku. “Yasmin, kok kamu gitu jawabannya?”, kajian itu penting Yasmin sebagai pengetahuan agama penjagaan kita”, jawab Zahrah. “Baik, in syaa Allah dilain waktu aku ikut ya Zahrah”, kataku.
Seminggu berlalu… “Yasmin, kamu dapat surat cinta dari Al Maidan?”, tanya Zahrah. Iya ni, Zahrah. “Menarik ya, kita harus ikut rohis kampus ya Zahrah?”. “Pasti”, jawab Zahrah. Aku dan Zahrah pun segera mendaftar dan mengikuti wawancara. Dan Alhamdulillah, kami lulus. Aku dibidang syiar dan Zahrah dikaderisasi. Awal kepengurusan aku sangat bersemangat. Pada suatu ketika, Al Maidan akan melaksanakan agenda Stimulus, Zahrah sebagai koordinator acara dan aku sebagai anggota acara. Aku merasa iri, kenapa Zahrah yang menjadi koordinator, kenapa bukan aku. Lagi-lagi aku sebagai anggota. Sejak itu, setiap ada syuro ataupun agenda aku gak pernah hadir. Zahrah berkali-kali mengajakku, dan dengan beribu alasan aku menolaknya. Walaupun satu kost, sejak saat itu, hubungan kami renggang. Kami jadi jarang cerita. Dan kami bersikap tertutup terhadap pribadi kami. Penyakit hati dalam diripun tumbuh, muncul sikap tidak suka terhadap Zahrah. dan akhirnya aku putuskan untuk pindah kost.
Dikost yang baru, aku tinggal bersama teman-teman yang hidup mewah, meghabiskan waktu dengan berkumpul dengan teman-teman satu geng. Sholat yang biasanya kulakukan tiap waktu, kini hanya kulakukan sekali dalam sehari bahkan aku lewati hari tanpa sholat. Pada suatu hari, terik matahari yang bersinar terang, aku menghabiskan waktuku dikost dengan bersantai-santai. Waktu berlalu, mataharipun menyembunyikan diri, menandakan waktu sudah malam. Jam menunjukkan pukul 21.30, seperti biasa setelah belajar dan makan malam aku langsung tidur. Beberapa jam kemudian, ditengah tidurku yang terlelap, aku bertemu dengan almarhum ayahku. “Ayah, Yasmin rindu ayah”, kataku. “Yasmin, ayah sedih melihatmu sekarang nak”, kata ayahku. “Kenapa ayah, ada apa dengan Yasmin?”, aku pun bertanya dalam mimpi. “Kamu kenapa sering meninggalkan sholat nak, kamu lebih mengutamakan pacarmu dari pada orang tua dan kuliahmu. ”Ayah kecewa sama kamu nak” kata ayahku dengan lantang. Ketika itu, aku pun terbangun. “Ayah, ya Allah ternyata hanya mimpi”. Setelah itu aku langsung kembali tidur.
Keesokan harinya, seperti biasa aku masuk kuliah, dan hari itu benar-benar melelahkan karena full masuk kuliah sampai sore dilanjutkan dengan kegiatan hima. Sesampainya dikost aku langsung tidur, tanpa ganti pakaian. Akupun terlelap, dan dalam tidur, aku bertemu dengan ayah, ayah berkata “Yasmin, kamu anak gadis ayah, anak yang sangat ayah sayang, jangan pernah kamu meninggalkan sholat. Tutup auratmu dengan jilbab syar’i. Dan jangan pacaran ya nak. Walaupun kalian pacaran tidak sampai melewati batas, dan ayah benar-benar ingin kamu untuk berubah nak”. Serontak aku terbangun. “Astaghfirullah, ya Allah ampunilah hamba”, itulah kata-kata yang terlontar dari bibirku saat itu. Kemudian, aku bergegas wudhu dan melaksanakan sholat sunnah tahajud. Dalam sujudku aku berdo’a, memohon ampun terhadap apa yang aku lakukan selama ini. Aku tidak melaksanakan kewajibanku sebagai hamba Allah, aku menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, jilbab yang ku pakai terkadang tidak menutup dada dan bahkan pakaianku membentuk tubuh, padahal aku tau itu adalah aurat yang dapat memancing syahwat laki-laki, aku pacaran dan aku meninggalkan seseorang yang benar-benar sangat berarti dalam hidup, yaitu Zahrah sahabat sejatiku. Ataghfirullahaladzim, ya Allah begitu buruknya hamba.
Setelah kejadian itu, sedikit demi sedikit aku memperbaiki diri. Tetapi ada satu hal yang membuatku  galau. “Bagaimana dengan hubunganku dengan Fahri yang sudah kami jalani selama satu tahun. Aku begitu menyayanginya. Dia sangat perhatian. Keluarganya sudah cukup mengenalku. Jika aku meminta putus, apa alasannya. Dia adalah pria yang baik, tidak berani macam-macam kepada ku”, kataku dalam hati. “Bagaimana ini ya Allah”, kataku sambil menunduk. Akupun berusaha meminta pendapat dari teman dekat ku, Zahrah.
Ketika itu, Zahrah tengah asyik ngobrol dengan Sari. Kemudian aku meminta Zahrah untuk bicara berdua saja. Kemudian aku menceritakan kejadian yang aku alami. “Zahrah, sebelumnya aku mohon maaf, aku meminta maaf sebesar-besarnya aku sudah menjauh dari kamu Zahrah. Padahal kesalahan itu datangnya dari aku. Aku minta maaf Zahrah, aku menjauhi kamu kemarin karena aku iri, kamu mendapatkan posisi diorganisasi sengai koordinator bidang sementara aku selalu jadi anggota. Maafkan atas penyakit hati yang buruk ini Zahrah”, aku menunduk. “Yasmin, aku senang akhirnya kita bisa kumpul lagi. Sebelum kamu minta maaf aku sudah memaafkan lebih dahulu. Aku menyayangimu, sahabatku Yasmin. Ketika tau kita sama-sama satu bidang, aku berharap ketika itu hubungan persahabatan kita semakin dekat, tapi malah diluar dugaan. Tapi gak papa sahabat, itu menjadi pelajaran bagi kita”, kata Zahrah sambil tersenyum kepadaku. “Iya Zahrah. Setelah aku pindah kost, kehidupanku semakin jauh dari Allah, aku semakin jarang sholat, bahkan kadang tidak sholat sama sekali. Aku lebih banyak meggunakan waktu untuk berkumpul dengan teman-teman, padahal yang kami bicarakan sama sekali pembahasan yang tidak penting. Hubungan aku dan Fahri juga semakin dekat. Aku dikenalkan dengan keluarganya, dan membuat kami tetap melanjutkan hubungan ini. Ada pada suatu malam, ketika itu almarhum ayahku tiba-tiba datang dimimpiku Zahrah, beliau meminta aku untuk melaksanakan kewajiban sholat lima waktu, berjilbab syar’i, dan tidak pacaran. Itu membuatku benar-benar galau. Bagaimana Zahrah aku menghilangkan galau ini dan menemukan solusinya?”, kataku dengan mata berkaca-kaca. “Yasmin, jangan menangis”, Zahrah sambil menghapus air mataku.
“Yasmin, kamu tidak salah, inilah kehidupan, kadang iman kita naik kadang iman kita turun. Ya, kita sebagai seorang hamba Allah harus senantiasa memperbarui iman kita. Ya, apa yang ayah kamu katakan itu benar  Yasmin. Memang awalnya kita lakukan sulit sekali. Tetapi sedikit demi sedikit harus tetap kita lakukan. Mulai sekarang kamu harus konsisten mengerjakan sholat, karena itu memang kewajiban kita. Berjilbab syar’i, ya itu akui juga berat, karena itu tampak tidak terlepas dari penglihatan orang-orang dan komentar orang. Pesanku, kamu jangan pernah menerima komentar orang yang mengkritikmu, kok tiba-tiba Yasmin jilbab panjang, padahal perilakunya masih tidak baik. Jangan hiraukan perkataan itu Yasmin, karena sesungguhnya kewajiban kita sebagai muslimah adalah menutup aurat, dan berjilbab syar’i bukan menunggu akhlak kita baik. Tetapi karena memang memakai jilbab itu adalah kewajiban seorang muslimah. Nah, sekarang yang paling berat apakah kamu melanjutkan hubungan dengan Fahri atau tidak. Kalau menurutku, memang kalau kita sudah memutuskan pacaran, maka kita harus menerima segala kosekuensinya. Karena hubungan kamu sudah terjalin cukup lama, yang membuat kamu sulit untuk memutuskan. Menurutku, kita sebagai muslimah harus punya prinsip, Ya Allah aku berniat menghilangkan perasaan ini dan kembalikan kelak perasaan ini bersama dengan sosok yang akan menjadi pasanganku yang halal. “Yakinlah, kalau dia adalah sosok yang terbaik untuk hidupmu kelak, pasti kalian akan dipertemukan kembali”, aamiin. In syaa Allah setelah itu perasaan kita lega karena kita berhusnuzan, dan ikhlas terhadap semua keputusan Allah”, jawab Zahrah.
“Masya Allah, memang benar-benar membuat aku semakin galau Zahrah”, jawabku. “Hihi, itu semua kembali kepadamu Yasmin”, jawab Zahrah. “Yakinlah, ini adalah sebuah ujian yang Allah berikan kepadamu, karena Allah yakin kamu dapat melewatinya, dan Allah ingin kamu menjadi hambanya yang jauh lebih baik, aamiin”, jawab Zahrah. “Aamiin”, jawabku.
Setelah itu, hubungan ku dengan Zahrah semakin dekat. Zahrah sealu mengajakku untuk ikut agenda kerohanian kampus, yang membuatku semakin dekat dengan Allah, dan jalan bagiku untuk berkumpul dengan saudara-saudari yang sholeh dan sholehah, aku berusaha senantiasa menunaikan segala kewajiban kepada Allah, dan aku mulai berjilbab syar’i. Berbagai macam omongan orang aku dengar, tak membutaku berhenti. Dan aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengam Fahri. Dari rangkaian peristiwa itu, benar-benar membuka mata dan pintu hati, Allah menunjukkan kebesarannya melalui sesuatu yang ridak disangka-sangka. Hijrah ini membuatku sadar, ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepadaku. Dan aku harus senantiasa bersyukur atas nikmat islam yang telah dikaruniakan-Nya kepadaku. Alhamdulillah ya Allah.



Komentar

Postingan Populer